Beberapa di antaranya menyangkut sisi kelam masa kejayaan industri batik, seperti berkembangnya prostitusi, dugaan aktor di balik pembakaran pabrik dan rumah industri batik, hingga konflik tanah serta persoalan antara buruh dan kepentingan juragan.
Dinamika sosial tersebut juga dikaitkan dalam diskusi dengan kemungkinan munculnya Sarekat Islam Merah di Kaliwungu.
Berbagai persoalan itu menjadi bagian dari ruang sejarah yang masih membutuhkan kajian dan penelusuran lebih lanjut.Baca Juga: LBM PCNU Kendal Haramkan Tambang MBLB Ilegal, Izin Berlebihan Juga Disorot
Moderator sebelumnya juga menekankan bahwa sejarah Kaliwungu tidak hanya berisi kisah kejayaan, tetapi memiliki sisi terang dan gelap yang perlu dibaca secara utuh.
Muslichin mengatakan, masih adanya ruang sejarah yang belum banyak dieksplorasi justru dapat menjadi peluang bagi penulis dan peneliti lokal untuk melanjutkan penelusuran.
"Ada alasan penulis untuk menyampaikan keberadaan fakta yang abu-abu dan gelap, barangkali penulis berupaya memotivasi pembaca dan calon penulis Kaliwungu lainnya untuk menangkap dan mengungkap peluang cerita yang belum dieksplorasi oleh Ibnu Fikri," ujar Muslichin di akhir acara.
Melalui Festival Literasi Kabupaten Kendal 2026, diskusi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembacaan satu buku.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan membuka ruang bagi lahirnya penulis dan peneliti lokal yang berani menggali kembali sejarah Kaliwungu secara lebih utuh, kritis dan berimbang.