• Selasa, 22 September 2026

Transformasi Desa Indonesia yang Mendunia: Strategi Glintung Go Green, BUMDes Ponggok, dan Panggungharjo

Photo Author
Danang Afi, InspiratifOnline.com
- Selasa, 24 Februari 2026 | 06:17 WIB



​Keajaiban terjadi. Suhu di kampung itu turun beberapa derajat. Ekonomi warga naik karena mereka tidak perlu lagi membeli cabai atau sawi. Kabar ini pun terbang melintasi samudera. Bambang Irianto, pria yang sehari-harinya mengurus surat pengantar KTP, tiba-tiba berdiri di Guangzhou, China, di hadapan para ahli tata kota dunia.





Ia memenangkan penghargaan internasional bukan karena teknologi satelit, tapi karena keberhasilannya menggerakkan rakyat untuk peduli pada tanah yang mereka injak. Dunia terperangah melihat bagaimana sebuah komunitas kecil bisa menyelesaikan masalah iklim global tanpa bantuan dana pemerintah di awal pergerakannya.





​Lompat ke Jawa Tengah, tepatnya di Desa Ponggok, kita menemukan Junaedi Mulyono. Jika Bambang bermain dengan air hujan, Junaedi bermain dengan mata air. Dulu, Umbul Ponggok hanyalah tempat pemandian kumuh tempat warga mencuci baju dan kerbau.





Desa itu miskin, anak-anak mudanya lebih memilih merantau ke kota daripada bertahan di tanah kelahiran yang gersang. Junaedi melihat potensi yang diabaikan orang lain: air yang jernih bak kristal.





​Ia mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Konsepnya unik dan berani: setiap warga desa adalah pemegang saham. Ia mengajak warga menginvestasikan uang mereka untuk membangun fasilitas wisata. Hasilnya? Desa Ponggok bertransformasi menjadi "Maldives" versi lokal dengan pendapatan mencapai miliaran rupiah per tahun.





Kini, tidak ada lagi pengangguran di sana. Bahkan, desa ini mampu membiayai asuransi kesehatan warga dan memberikan beasiswa hingga ke perguruan tinggi. Ponggok menjadi rujukan internasional tentang bagaimana ekonomi sirkular bisa menyelamatkan desa dari kemiskinan sistemik. Junaedi membuktikan bahwa seorang Kepala Desa bisa memiliki visi CEO perusahaan Fortune 500.





​Fenomena ini menarik perhatian lembaga sekelas World Bank. Mengapa? Karena di negara maju, segala sesuatu seringkali diselesaikan dengan anggaran besar dan teknologi canggih. Namun di tangan pemimpin-pemimpin lokal Indonesia, masalah diselesaikan dengan "Gotong Royong 2.0". Ini adalah kombinasi antara kearifan lokal yang komunal dengan manajemen modern yang transparan.





​Lihat pula apa yang dilakukan Wahyudi Anggoro Hadi di Desa Panggungharjo, Yogyakarta. Ia tidak sekadar membersihkan sampah, ia menciptakan sistem perlindungan sosial desa yang bahkan lebih akurat daripada data pusat. Warga yang memilah sampah mendapatkan poin yang bisa ditukar dengan pelayanan kesehatan atau pendidikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Danang Afi

Rekomendasi

Terkini

X